Selasa, 22 Maret 2022

BUKU ISLAM RINGAN DAN ISLAM BERAT

 

                                            Dr. Abdul Wahid Hasan

Dalam sebuah kesempatan pergi ke Yogya, di awal 2007, saya menyempatkan diri bertemu dengan bos penerbit IRCiSoD dan Diva Press, Mas Edi AH Iyubenu, yang telah menerbitkan buku saya, SQ Nabi: Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual Rasululah Saw di Masa Kini. Mungkin buku tersebut termasuk buku ilmiah karena ternyata Depag RI memberikan penghargaan kepada saya sebagai buku ilmiah terbaik yang ditulis oleh dosen swasta PTAI-Indonesia.

Perbincangan seputar buku, antara saya dan Mas Edy segera mengalir deras dan hangat. Maklum, bos Ircisod itu adalah seorang penulis produktif, yang telah berhasil mempublikasikan tulisannya di berbagai koran, majalah dan jurnal, lokal ataupun nasional. Sementara saya, dulu adalah mahasiswa yang juga punya syahwat cukup tinggi terhadap perbukuan: membaca dan menulis, meskipun tidak seproduktif dia.  “Buku kamu itu bagus. Tetapi tanggapan pasar tidak sebagus bukumu, karena ia tergolong buku berat, yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat terpelajar saja,” katanya menanggapi pertanyaan saya tentang laku tidaknya buku saya tersebut.

Dia lalu mengambil buku Misteri Shalat Tahajjud yang ditulis oleh Muhammad Muhyiddin. Setelah saya periksa, pada bulan Januari 2007 saja, ternyata buku itu sudah dicetak empat kali, dan selanjutnya cetakan V bulan Februari dan cetakan VI pada bulan Maret. Saya tidak tahu sekarang, mungkin sudah cetakan X atau lebih. “Tidak kurang dari Rp. 5 juta setiap bulan, saya harus membayar royalti kepada Muhyiddin,” katanya sambil tersenyum penuh arti. “Coba kamu menulis buku yang seperti ini!” Ia memotivasiku untuk menulis buku, sambil menunjukkan buku Muhyiddin yang lain, yang juga best-seller, Misteri Energi Istighfar.

Saya terus membolak balik kedua buku itu. Muhyiddin ternyata telah menulis banyak buku laris seperti Menjadi Kaya Bersama Dzikir, Kasidah-Kasidah Cinta, The True Power of Heart, Keajaiban Shodaqah, Jilbab itu Keren dan lain-lain. Saya kemudian diajak oleh Mas Edy melihat ke gudang buku untuk melihat langsung buku-buku yang lagi laris di pasaran. Saya melihat ada buku Rahasia Shalat Khusyuk dan Keajaiban Hati  yang ditulis oleh Rizal Ibrahim, Menyingkap Rahasia Gerakan-Gerakan Shalat karya Hilmi al-Khuli termasuk novel-novel Islami seperti Syahadat Cinta karya Taufiqurrahman al-Azizy, Dzikir-Dzikir Cinta yang ditulis oleh Anam Khairul Anam dan buku-buku Islami lainnya. Di TB Social Agency dan TB yang lain saya juga menemukan puluhan buku-buku keislaman yang begitu laris seperti Lezatnya Shalat Khusyu’ dengan Hati yang Bersih dan Rahasia Menggapai Hidup Bahagia yang ditulis oleh Bisri M. Djaelani, termasuk novel laris Ayat-Ayat Cinta yang ditulis oleh Habiburrahman El-Shirazy yang mengalami puluhan kali cetak ulang. 

Dalam perjalanan pulang ke Madura pikiran saya terus dihantui beribu pertanyaan: mengapa masyarakat Indonesia menyukai buku-buku keislaman seperti itu? Apakah karena masyarakat Indonesia mayoritas muslim? Apakah mereka sudah begitu merindukan relijiusitas dan spiritualitas untuk hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari? Kalau memang ya, mengapa? Mengapa mereka tidak menyerbu buku-buku spiritual lainnya yang memiliki bobot ilmiah lebih dalam seperti Mencari Belerang Merah-nya Claude Addas, Imajinasi Kreatif Sufisme Ibn ‘Arabi yang ditulis oleh Henry Corbin, Tawasin-nya Abu Mansur al-Hallaj dan lain-lain? Mengapa mereka juga tidak antusias untuk mengkaji buku-buku pemikiran keislaman seperti Formasi Nalar Arab-nya M. Abed al-Jabiri, Menalar Firman Tuhan-nya Nasr Hamid Abu Zayd, Rethinking Islam-nya Mohamed Arkoun dan lain-lain?

Dengan logika berpikir yang amat sederhana saya mulai memetakan buku-buku tersebut menjadi dua. Yang pertama masuk dalam kategori buku “Islam Ringan” dan yang kedua masuk dalam kategori “Islam Berat”. Dari sisi tema, antara buku Islam ringan dan Islam berat sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda. Yang membedakan keduanya adalah model kemasan bahasanya. Islam berat tampil dengan bahasa yang  “seram” dan lebih bersifat teoritis-ilmiah. Sedangkan  buku Islam ringan bahasanya mudah dicerna dan lebih bercorak praktis-amaliyah.

Kata Ruslan, salah seorang distributor buku di Yogyakarta, buku Islam ringan ini amat laris di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain. Kepenatan setelah seharian bekerja di luar rumah dengan segala problem yang menyertainya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka malas untuk membaca buku-buku berat yang harus mengernyitkan dahi. Mereka butuh bacaan ringan untuk mengobati rasa letih, tetapi yang bermanfaat untuk kebermaknaan hidup, ketenangan dan kedamaian jiwa mereka. Mereka membutuhkan wejangan spiritual sekaligus kiat praktis  untuk mengatasi keletihan fisik dan psikis mereka. Intinya mereka ingin puas, bahagia dan merasa nyaman dengan pekerjaan dan materi yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut.

Selain itu, berbagai bencana dan musibah yang melanda Indonesia akhir-akhir ini seperti gempa, tsunami, pesawat jatuh, kebakaran, banjir bandang, tanah longsor, lumpur Lapindo dan lain-lain, yang telah banyak merenggut nyawa dan harta benda, menyebabkan banyak orang terpukul, sedih, stress, putus asa, merasa hampa dan pada akhirnya kehilangan makna (lack of meaning). Belum lagi persoalan ekonomi yang terus mencekik leher banyak orang. 

Maka buku-buku yang menawarkan penyejuk pikiran, hati dan jiwa seperti kiat-kiat shalat khusyu’, rahasia shalat tahajjud, mukjizat dzikir, menggapai kebahagiaan sejati, psikologi kematian sampai cara menjemput ajal dengan baik, dengan mudah berhasil menarik simpati mereka. Para penulis pun berlomba untuk menulis buku. Haidar Baqir dan Komaruddin Hidayat juga tidak ketinggalan. Penerbit juga memburu orang-orang yang dianggap bisa menulis. Beberapa minggu yang lalu saya mendapat order untuk menulis buku dengan tema shalat itu nikmat, menajemen husnul khatimah, menjemput ajal dengan tersenyum dan lain-lain, setelah buku saya Shalat Sunnat Bersama Nabi Saw. mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Tentu saja tidak sembarang buku Islam ringan yang menajdi best-seller. Mereka juga tetap mempertimbangkan bobot dan gaya penulisannya. Sebab tidak sedikit buku Islam ringan yang sepertinya ditulis dengan “terburu-buru” sehingga terkesan dipaksakan dan alur penulisannya pun tampak kurang runtut.  Banyak sub bab yang terkesan “dihubung-hubungkan” dengan tema, padahal sebenarnya tidak terlalu berhubungan.

Terlepas dari semua itu, saya melihat bahwa masyarakat kita saat ini memang sedang haus dengan hal-hal yang berbau spritualitas. Mereka tidak ingin krisis spiritual, krisis eksistensial dan krisis makna seperti yang sedang melanda dunia Barat saat ini, menghampiri mereka. Mereka juga tidak ingin mengalami keterputusan dengan The Higher Consciousness dengan tetap menjadikan agama sebagai jalan hidup mereka. Intinya, hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) menjadi motivasi utama mereka untuk bisa meraih kehidupan bermakna (the meaningful life). Bedanya dengan Logoterapi-nya Viktor Frankl adalah terletak pada keinginan mereka untuk meraih kebermaknaan itu dalam bingkai dan cahaya agama.

Saya berharap semoga Islam ringan dan spiritualitas yang dijejalkan oleh para penulis ini tidak menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi lebih gemar duduk di dalam rumah, mengaji, berdzikir, shalat dan melakukakan aktivitas lain yang lebih mementingkan “keselamtan diri sendiri” daripada berperan aktif berkerja di luar: memberantas korupsi dan kemiskinan, meningkatkan pendidikan, membela hak-hak orang tertindas dan lain-lain yang sebenarnya juga merupakan bagian terpenting dari spiritualitas Islam. Saya juga berharap bahwa Islam berat pada gilirannya juga menjadi “buruan” masyarakat karena itu berarti mereka sudah semakin terpelajar. 

 

Dr. Abdul Wahid Hasan

Penulis buku SQ Nabi, Mengarungi Jagat Spiritual Gus Dur, Studi Islam, dan buku-buku Keislaman lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar