Rabu, 02 Januari 2013

INNA LILLAHI-ALHAMDU LILLAHI



Seperti biasa, dalam banyak hal, ketika hendak mengambil keputusan yang berimplikasi pada diri, keluarga dan orang lain, saya selalu memohon pertimbangan kepada Allah agar diberi pilihan yang terbaik dalam apa yang akan saya lakukan tersebut. secara umum saya melakukan shalat istikharah setiap malam, untuk kepentingan tersebut. Jika masih ragu maka saya minta bantuan teman yang saya percayai sebagai orang yang sangat baik dan memiliki keistimewaan dalam hal ini.
sebelum melakukan hal tersebut, kita biasanya berbincang-bincang santai tentang berbagai persoalan, terutama yang terkait dengan spiritualitas. kata kunci pembuka perbincangan kemarin (3 januari 2013) adalah inna lillahi dan alhamdulillah.
inna lillahi sebenarnya bukan hanya sekadar kata yang diucapkan pada saat kita mendapatkan musibah. Ia lebih merupakan sebuah bentuk 'kesadaran' bahwa kita, semua yang kita miliki, semua yang terkait dengan kita, yang kita makan, suara yang kita keluarkan, kaki yang bisa melangkah, perut yang bisa menampung makanan dan minuman, dan semuanya....adalah milik Allah. Kita hanya menumpang untuk meminjam atau menggunakan hak pakai. Maka segala syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh sang pemilik harus ditaati dan kita harus menjaganya sebaik mungkin. JIka tidak, maka tentu hak pakai atau hak meminjam tersebut bisa dicabut oleh pemiliknya, dan sang peminjam tidak mendapatkan lagi pinjaman yang lain, bahkan bisa mendapatkan hukuman dan murka dari sang pemilik karena dia telah melalaikan petnjuk dan prasyarat yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, kita bisa bisa bertanya: sudahkah kita menjaga mata, telinga, mulut, tangan, ilmu, harta kekayaan,, mobil, motor, rumah, isteri, anak-anak, udara, lingkungan, dan lain-lain yang semuanya merupakan hak pakai dari Allah? kita meminjam dari-Nya?

Jangan menyesall jika kita kehilangan semua itu, karena berarti Allah sudah tidak percaya kepada kita untuk memperpanjang hak pakai tersebut, karena kita ternyata selau lalai memenuhi aturan yang sudah ditentukan oleh Allah. Dalam setahun berapa kali mata kita kita gunakan untuk melihat lawan jenis, menonton video porno, menatap yang bukan seharunya ditatap? dalam setahun, berapa KM kita telah berjalan dengan mobil, kaki, dan motor kita, yang mengarah kepada perjalanan yang menyalahi ketentuan dari Allah? teruslah kita bertanya...

SEbaliknya, jika kita manfaatkan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan maka berarti kita telah berterima kasih kepada Sang pemilik, dan karena kita telah bertanggung jawab dan menjaga amanah, maka pada saat-saat selanjutnya kita akan mendapatkan hak pakai yang lebih banyak, karena kita sudah mendapatkan kepercayaan. Di sinilah kita perlu bersyukur dengan, minimal mengatakan alhamdulillah, yang berarti bahwa segala pujian itu hanya milik Allah. Jika ada orang yang memuji kita karena ilmu, harta, prilaku, dll. itu harus dikembalikan kepada Allah, karena semuanya milik Allah. Kita hanya menumpang. Maka janji Allah bahwa Dia akan memberikan bonus tambahan bagi hamba yang bersyukur, berterima kasih, menjaga amanah, menggunakan hak pakai dengan benar; jika kalian bersyukur Aku sungguh akan menambah untuk kalian, dan jika kalian ingkar sungguh siksaku sangat pedih.
(catatan langsung, di INSTIKA, pagi hari jam 09; 4 Januari 2013; gu' ganggu'. lama sekali tidak posting catatan)
Selengkapnya...

Minggu, 23 Januari 2011

Surat Rindu Buat Ibu (9)

Ibu,
Air mata ini adalah doa
Ia lahir kerena cinta yang kau sisakan
Dengan hatimu
Telah memenjarakan harapan
yang kau tegakkan di tengah rumah Tuhan

Ibu,
Tak ada yang mengerti tangisku
Selain ibu

Aku kembali menjadi bayi
Yang merindukan kehangatan
Ketika kamarku berwarna neraka

Ibu,
Di sinilah anakmu belajar memahami
Setiap kelabu yang menyembur
Dari sela-sela cakrawala;
Ia adalah kemilau
Ketika hati sedang bercermin pada kesucian

Ibu,
Hanya kerinduan
Yang senantiasa bergema dalam setiap sujud
Aku, ayah dan adik-adik
Hanya bisa bertemu ibu dalam mimpi


yogya, Agustus 2002 Selengkapnya...

Surat Rindu Buat Ibu (8)

Ibu,
Kembali aku di sini dengan memikul harapan
Bahwa perjalanan akan segera bermuara
Pada pesemedian yang damai

Ibu,
Dengan berbekal sisa doa dan harapanmu
Aku menembus kabut
Untuk menemukan lorong yang dijanjikan oleh setiap pemahat yang mengerti kesejetian
Tapi aku hanya berputar di bawah lingkaran kebisingan
Karena garis-garis yang memancar ke puncak
Hanyalah fatamorgana
Melilit hati hingga membeku jadi arang
Kemudian batu

Ibu,
Sulit sekali untuk meyakinkan rembulan
Bahwa yang kutulis adalah keabadian

yogya, agustus 2002 Selengkapnya...

Surat Rindu Buat Ibu (7)

Ibu,
Bukan tidak mungkin lentera
di rumah kita akan padam
Ketika, karena, sumbu yang mengakar ke lautan telah dipangkas dengan begitu kejamnya

Tak ada sungai yang tak kan kering
Jika pelangi di musim kemarau
Terus meronta-ronta
Menebarkan trisula pada setiap tikungan perjalanan

Raga telah memenjarakan hati
Seluruh jiwa meringkuk dalam gelap

Ibu,
Aku ingin pulang
Karena kecupan pada nisan
Adalah baktiku padamu

Ibu,
Tidak usah kau ikut bersedih
Jika ujian ini belum selesai;
Aku hanya butuh doamu



yogya, Mei 2002

Selengkapnya...

Surat Rindu Buat Ibu (6)

Ibu,
Sekarang alam sedang nyenyak tertidur di pangkuan langit
Riak ombak telah menjadi nyanyian dan firman keabadian
Gelombang telah memberikan makna keberadaanya;
“Karena cinta aku hadir”
kata mereka setelah lelah
meliuk-liuk di permukaan karang perantauanku.

Ibu,
Baru aku sadari
Beginilah cara Tuhan memperkenalkan diri-Nya
Menebarkan kasih-Nya
Dan mencintai hamba-Nya

Inilah bedanya ibu,
Antara hati dan emosi
Karena cinta,
Ibu memarahiku
Dan karena marah
Dia membenciku

Tak ada yang tersisa
Selain tangismu di depan multazam

Ibu,
Bersama semangatmu
Kami masih melanjutkan perjalanan


yogya, Mei 2002

Selengkapnya...

Surat Rindu Buat Ibu (5)

Ibu,
yang kau doakan dengan penuh keikhlasan
Telah ditelan badai perjalanan

Yang kau banggakan dengan penuh kesucian
Telah terkubur bersama fosil-fosil

Yang kau harapkan dengan penuh kelembutan
Telah membunuh semua yang kami miliki
Hingga getarpun menjadi gunung es
Ketika bumi mengecup bulan
Di padang-padang

Ibu,
Karena doamu

aku masih tetap bersila di pinggir jurang terjal ini
Tak ada yang tersisa selain mimpi
Yang pelan-pelan menghilang
Ketika badik yang mencabiknya
Tak pernah memahami arti kesucian yang kita sisakan




15 Mei 2002
Selengkapnya...

Surat Rindu Buat Ibu (4)

Air matamu ibu,sebelum engkau melanjutkan pelayaran menuju kedamian, masih terasa sejuk di hati kami
Karena engkau terjaga dari ketidaksadaran
Setelah kami merindukan petuahmu di ujung perjalanan

Siapa yang akan menyalahkan gelombang
Jika seluruh langit juga tak kuasa menahan keharuan
Membuncah hingga jeritan kami semua adalah lupan doa

Ibu, maafkan jika kami belum sempat mempersembahkan tangis kesucian bayi di pangkuan dadamu
Yang penuh dengan kebiruan cinta

Ibu, kau pergi sebelum sempat menyaksikan
Para pertapa itu berkalung surban
Di panggung yang penuh kembang

Tapi aku yakin ibu,
Embun ini akan setia menyilmuti pelayaran
yang kau jalani di sana
karena tak ada yang lebih berharga dari keikhlasan doa

yogya, mei 2002
Selengkapnya...

Surat Rindu Buat Ibu (3)

Ibu
Ketika sisa-sisa kebiruan yang kita miliki
tertimbun di belantara kebisingan yang kotor
Ketika kemilau yang kita miliki dirobek-robek
dengan kekuatan diri yang mulai mengakar di lautan itu
ketika aku sudah lelah untuk membangun kembali kesetiaan yang kita miliki
kau hadir menyiram luka ini dengan penuh kasih sayang
bening wajahmu masih kuingat
ketika hatiku terikat di depan rumah Tuhan;
semua langit yang kukenal menjadi biru
karena memang pertemuan itu akan melahirkan kesucian

Ibu,
Bantu aku dengan kedekatanmu pada Tuhan
Agar bumi yang kupijak masih bukan beling
Dan udara yang kuhirup adalah kedamian
Karena keraguan sering melindas benteng yang kumiliki
Aku tidak mampu membendung gelombang
Hanya dengan hati yang sudah lelah untuk berkibar
Akibat deru musim yang membingungkan semua yang bernama rembulan

Ibu,
Masih adakah suatu kepastian untuk anakmu ?



kamar sapen, yogya: 13 Mei 2002
Selengkapnya...

Surat Rindu Buat Ibu (2)

Ibu,
Di sini orang-orang bercerita tentang pohon
yang kau tanam dan telah berbuah
Tentang kami yang masih dalam pelayaran
Tentang kemilau yang kau guratkan lewat kasih sayang
Tentang cucu yang sangat kau dambakan
Tentang kesucian, keabadian, harapan, ujian
Doa dan sujudmu
Kepergiaanmu telah menggetarkan pintu dan jendela
Hingga air sungai juga ikut berombak
Tangis kejujuran mereka
Adalah bukti birunya perjalan hidupmu

Ibu,
Rasanya seperti baru kemarin kau mengecup keningku dengan doa sucimu
Menjewer telingaku dengan penuh cinta
Mencambukku, memukulku lalu kau mandikan aku
Di sumur tempat kita mengecup air susu bersama-sama

Ibu,
Kemarin aku demam. Aku tidak mamapu menolak kehadiran wajah ibu dalam kerinduan yang dalam

Ibu, dia telah pergi dari lingkaran kehidupan
yang kita susun bersama-sama
Betul Ibu,
Memang sulit mempertemukan kemilau bintang
Dengan gubuk reyot kita yang terus dimakan rayap.
Keikhlasan bukan sesuatu yang bermakna
Dalam gerhana alam yang menajamkan belati
Pada seluruh menara
Selengkapnya...