Sabtu, 2009 Februari 28

Dunia Anak dan Tugas Kita

Jika engkau ingin melihat sucinya kehidupan,
tataplah kedua bola mata anak-anak.

---Hamid Abdul Khaliq

Setiap orang tua (atau guru) yang normal, pastilah menginginkan untuk menyaksikan dan memiliki anak-anak (murid-murid) yang sehat, kuat dan tangguh, baik secara fisik, emosi, moral, intelektual ataupun secara spiritual. Kita semua (orang tua dan guru) menginginkan anak-anak kita menjadi yang terbaik bagi dirinya dan orang lain, sesuai dengan fitrah kemanusiaanya. Sebab, pada dasarnya, anak-anak adalah masa depan mereka sendiri. Mereka ab wa umm al-mustaqbal (ayah dan ibu masa depan). Mereka akan memainkan dan melanjutkan peran orang tuanya yang belum selesai selama bertugas menjadi khalifah. Dalam perspektif agama, kebaikan anak-anak akan menjadi “tabungan amal berkesinambungan” (amal jâriyah) bagi orang tua (termasuk orang lain yang menanamkan kebaikan tersebut) meskipun sang penamam telah meninggal dunia. Dan tentu saja juga sebaliknya. Setiap tindak kriminal dan prilaku menyimpang lainnya akan menjadi "tabungan kejahatan" yang akan terus "berbunga", untuk kemudian "bunga" tersebut akan dikirimkan secara berkelanjutan, kepada orang tua, dan orang-orang yang ikut terlibat dalam penanaman "modal" kejahatan tersebut.
Semua kita, tentu tidak menginginkan untuk mendapatkan kiriman "bunga" kejahatan, dari kesalahan yang secara langsung tidak kita lakukan. Namun tidak semua kita, orang tua dan guru, bisa menghadirkan impian untuk memiliki anak-anak yang baik dalam kenyataan hidup. Berbagai tantangan mengahadang di hadapan kita, baik tantangan yang bersifat eksternal misalnya berupa lingkungan yang tidak sehat, sajian informasi yang tidak mendidik, dll. ataupun yang bersifat internal (berasal dari dalam diri kita sendiri) berupa ketidaktahuan dan kebodohan kita dalam memahami dunia mereka yang unik, sehingga seringkali kita memperlakukan mereka seperti kita memperlakukan orang-orang dewasa. Padahal mereka hidup dengan dan dalam dunia mereka sendiri yang tidak sama dengan dunia orang dewasa. Mereka bukan miniatur orang dewasa sehingga kita, para orang dewasa, mesti memahami betul kondisi-kondisi psikologis mereka sehingga kita bisa masuk dan melebur ke dalam dunia mereka dengan lebih arif dan bijaksana.


Kondisi Psikologis Anak Dan Tugas Kita
Dunia anak yang akan kita selami di sini adalah anak-anak yang berada antara rentang usia antara 3-12 tahun, yang oleh para psikolog dibagi menjadi dua, yaitu masa kanak-kanak awal (early childhood; antara 3-6 tahun) dan masa kanak-kanak akhir (late childhood; usia antara 6-12 tahun). Pada masa-masa ini, kita mesti mengetahui secara benar apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih bijaksana dalam memperlakukan mereka sehingga kita tidak mudah “menyalahkan” mereka dengan disertai kemarahan yang berlebihan atau “membenarkan” apa yang mereka lakukan dengan disertai pujian yang over. Semua tindakan tersebut bisa jadi merupakan tindak kriminal yang membahayakan bagi perkembangan anak jika dilakukan pada saat yang salah. Maka mengetahui kondisi anak yang sebenarnya merupakan kemestian.
Ada beberapa nama yang biasa dilekatkan pada anak-anak dalam usia ini.
Pertama, preschool age (Masa Pra sekolah).
Pada masa ini anak-anak masih belum saatnya masuk sekolah dan menerima materi. Kalaupun mereka mau ikut sekolah, masukkanlah mereka pada “taman”, baik taman bermain (playgroup), untuk usia 3-4 tahun atau taman kanak-kanak, untuk usia 5-6 tahun. Meskipun ada sebagian anak yang “dipaksa” ikut bersekolah dan ternyata bisa membaca huruf latin, huruf Arab dll, maka bisa saja, kelak di kemudian hari dia akan mengalami kemandekan total yang ditandai dengan malas sekolah, belajar, bahkan hal-hal yang sudah diketahui dulu, bisa hilang kembali, sehingga dia harus mengulang dari A lagi. Sayangnya, keinginan orang tua yang berlebihan untuk menyaksikan anaknya bisa membaca Alqur'an (sekedar contoh di beberapa TK dan TKA yang penulis temui) dalam usia dini seringkali menyebabkan mereka memaksa anaknya untuk terus mengaji dan belajar di setiap waktu, sehingga mereka banyak yang kehilangan masa kanak-kanaknya.
Perlakukan berlebihan seperti ini amat berbahaya, baik pada fisik ataupun perkembangan intelektual mereka. Hal ini pernah disinyalir oleh al-‘Abdarî melalui pernyataannya:
ولكن الاطفال يذهبون الأن للتعلم فى سن مبكرة. فليحذر المدرس من تعليمهم القرأة فى سن مبكرة لان تعليمهم المبكر فى الرابعة او الخامسة يرهقهم جسميا وعقليا.

Akan tetapi, saat ini, anak-anak sudah pergi belajar pada usia yang masih sangat dini. Oleh karena itu, guru hendaknya berhati-hati (menjauhi) mengajari mereka membaca pada usia yang masih dini tersebut karena dengan mengajari membaca pada usia anak antara 4-5 tahun berarti dia telah melakukan irhâq (oppression [penindasan] atau over exertion [pemerasan yang berlebihan) pada fisik dan nalar mereka.

Lebih jauh al-‘Abdarî menegaskan bahwa para ulama salaf terdahulu biasa mengirimkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan ketika mereka berusia sekitar 7 tahun. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kondisi kebiasaan orang tua di Madura (atau Indonesia), ketika penulis masih anak-anak, yang biasa menyekolahkan anak-anak mereka ketika tangan mereka sudah bisa menyentuh telinganya. Dan sampainya “tangan anak ke telinga” biasanya terjadi ketika dia berumur sekitar 7 tahun.
Meskipun begitu, bagi penulis sendiri, usia “kematangan” jauh lebih penting dari sekadar usia “kalender”. Artinya, bisa saja serang anak baru berusia 6 tahun, tetapi secara "intelektual" ia lebih “dewasa” dibandingkan anak usia 7 tahun. Dan seterusnya.
Kedua, pre-gang age.
Dalam usia ini anak-anak sudah mulai belajar dasar-dasar dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka sudah mulai senang berkelompok, bermain bersama dll. Dalam interaksi ini tidak jarang di antara mereka akan terjadi pertengkaran, percekcokan bahkan perkelahian. Hal itu terjadi karena mereka ingin mempertahankan atau membela apa yang menurut mereka adalah benar dan menajadi hak mereka. Semua itu sama sekali bukan merupakan “kejahatan”. Itu adalah sebuah proses yang sedang dijalani oleh mereka untuk menemukan keberadaan mereka Buktinya, di hati mereka tidak ada dendam atau iri hati. Lima atau sepuluh menit kemudian, mereka sudah akur kembali.
Oleh karena itu, kita tidak perlu panik atau marah-marah ketika melihat anak-anak bertengkar dengan teman sebayanya. Lebih naif lagi, jika kita sampai manampar, atau menyakiti fisik mereka. Yang lebih bijak adalah memberikan pengarahan, bimbingan dan menunjukkan keadilan.
Saat anak-anak sudah akur kembali dengan teman seterunya, saat itulah adalah waktu yang tepat untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada mereka. Ajarilah mereka untuk berani meminta maaf, mengakui kesalahan, dan bersikap gentle. Pada saat yang sama, kita juga bisa mengajari mereka untuk membuka hati dan melapangkan dada: memberi maaf kepada orang lain.
Sikapa luhur seperti ini penting sekali untuk ditanamkan ke dalam jiwa anak-anak sejak mereka masih berusia kanak-kanak. Paling tidak, hal itu akan menjadi bekal awal bagi mereka, bahwa dalam mengarungi kehidupan, kelak mereka pasti akan berbenturan dengan persoalan-persoalan "ketidaksepahaman" dengan orang lain.
Dalam konteks seperti ini, kita, para orangtua, seringkali kalah dengan anak-anak; pada saat kita berselisih paham dengan orang lain, sulit sekali di antara kita untuk meminta maaf, apalagi memberi memaaf.
Ketiga, problem age, masa penuh problem.
Dalam perjalanan hidupnya, anak biasanya mengalami dua kali masa pancaroba atau krisis yang lazim disebut "masa menentang". Pertama, terjadi pada kisaran usia 2-3 tahun (psikolog lain menyatakan 3-5 tahun). Masa ini juga disebut masa krisis perta, pubertas pertama atau trozt alter/trozt periode). Dan kedua, pada usia remaja, yaitu kisaran usia 14-17 tahun.
Pada saat mengalami krisis ini, anak-anak akan sering memberontak, menentang kehendak orang lain, mau menang sendiri, orang lain dipaksa mengikuti kehendaknya dan semua yang ada di sekelilingnya adalah miliknya sehingga tidak boleh ada orang lain yang menyentuh atau mengambil. Tidak jarang terjadi perebutan barang “yang tidak berharga” di antara anak-anak, hanya karena si anak merasa ada orang lain yang hendak merampas barang tersebut dari dirinya. Sebagai contoh, sebatang bambu yang sejak tadi tergeletak di halaman rumah, akan menjadi pemicu pertengkaran ketika ada anak lain seusianya, yang mencoba mengambil sebatang bambu tersebut untuk dijadikan mainan, atau untuk keperluan lain. Padahal sejak tadi (atau bahkan sejak beberapa hari yang lalu), tidak ada yang peduli terhadap sebatang bambu tersebut.
Tampaknya, setiap anak memang dilahirkan dengan membawa perasaan mementingkan diri sendiri. Begitu mereka mengenal konsep “aku” maka semua yang dia lihat adalah milikku: ini ayahku, ibuku, mobilku, rumahku, mobil-mobilanku dan lain-lain. Ego-nya begitu dominan menguasai dirinya. Semuanya harus tunduk padanya, sebab dia adalah “raja”. Tidak boleh ada yang menentang kehendaknya. Oleh karena itu para psikolog juga menyebut mereka dengan "egosentris". Para psikolog lain menyebut mereka sedang berada dalam fase "kepala batu".
Hetzer (1961) dan Remplein (1962) melihat "pembangkangan" yang ditunjukkan oleh anak-anak dalam fase ini sebagai sesuatu yang wajar. Bagi keduanya, pembangkangan merupakan proses inti dari perkembangan kemauan dan kepribadian anak. Anak yang tidak mengalami atau tidak menunjukkan pembangkangan pada fase tersebut berarti ia mengalami suatu "kendala" dalam proses perkembangannya untuk menjadi pribadi yang maksimal
Namun pada kenyatannya, tidak jarang orang tua yang dibuat jengkel oleh tingkah laku anak-anaknya sehingga tidak jarang pula di antara mereka yang mengeluh anaknya “nakal” (Madura: meller; cengkal), bandel dll. Padahal tingkah laku anak seperti yang dilukiskan di atas merupakan gejala psikologis yang wajar dan normal. Justeru orang tua mestinya harus merasa sedih jika menyaksikan anaknya terlalu banyak diam, dan tidak belajar “mempertahankan diri” ketika ada orang lain yang hendak merebut haknya. Sebab hal tersebut menunjukkan ada bagian dari potensi anak yang tidak berkembang secara normal dan optimal.
Keempat, experiment age (masa melakukan penyelidikan dan percobaan).
Pada usia ini kita akan sering melihat anak-anak memegang atau meraba barang-barang baru, naik ke tempat yang tinggi, melompat-lompat, mengiris buah dengan pisau, menggunting kain, bermain api dan lain-lain yang tidak jarang membuat kita “terbelak” dan panik karena khawatir benda-benda itu membahayakan diri bahkan jiwa mereka. Seringkali mereka juga bermain-main dengan menggunakan benda atau peralatan berharga yang kita miliki; piring, gelas, pena, buku dll, dan pada pada akhirnya tidak jarang juga mereka yang merusak atau memecahkan barang-barang tersebut.
Pada saat itulah kebijaksanaan kita betul-betul dituntut; apakah kita akan marah besar terhadap mereka yang telah memecahkan piring dan gelas yang kita miliki, lalu memukul, menjewer, menjambak rambutnya hingga akhirnya mereka menangis? Apakah kita akan mengambil dengan kasar pisau yang mereka pegang karena takut melukai tubuhnya?
Sekali lagi, yang mereka lakukan dengan semua itu adalah wujud dari “keingintahuan” yang bentuknya adalah dengan melakukan eksprimen. Keingintahuan mereka yang begitu besar mendorong mereka untuk memegang apa saja bahkan berbuat apa saja. Mereka belum tahu “bahaya” dan dampak negatif dari apa yang mereka lakukan. Di sinilah peran kita untuk memberitahukan, mengarahkan, membimbing dan menjelaskan dampak-dampak positif dan negatif dari apa yang mereka lakukan itu. Bukan dengan menyakiti mereka dengan “kata-kata” atau dengan “perbuatan” kasar, yang semua itu justeru akan menyebabkan tumbuhnya perasaan takut dalam diri mereka sehingga dia tidak punya keberanian untuk melakukan eksperimen berikutnya, atau menyebabkan tumbuhnya perasaan kotor lain yang akan bersarang dalam jiwa dan hati mereka.
Itulah sebabnya mengapa Rasulullah saw. sangat marah kepada seorang ibu yang merenggut anaknya dengan begitu kasar ketika si anak berkencing di haribaan beliau saw. Kepada si ibu beliau bersabda:
ان هذه الاراقة الماء يطهرها فأي شئ يزيل هذا الغبار عن قلبه
aliran kencing ini masih bisa dibersihkan oleh air. Akan tetapi, apa yang dapat membersihkan “debu” dari hati si anak ini?

Kelima, fairy-tale stage (fase cerita khayali).
Dalam masa ini anak-anak senang sekali mendengarkan atau menonton cerinta-cerita (fiksi atau nonfiksi). Antusiasme mereka yang begitu menggebu untuk menyimak dan mendengarkan hikayat yang kita suguhkan, apalagi hikayat yang bersambung, merupakan ladang empuk dan kesempatan emas yang bisa dimanfaat oleh kita, orang tua atau guru, untuk menjelajahi jiwa mereka sekaligus membangkitkan dan menanamkan nilai-nilai luhur seperti keimanan, keteguhan hati, toleransi, cinta yang universal (cinta kepada semua makhluk Tuhan, termasuk pada lingkungan dan binatang), patriotisme, dan lain-lain, termasuk mengikis nilai-nilai yang tak terpuji seperti iri hati, dendam, mementingkan diri sendiri, korupsi, dan lain-lain. Cerita perjuangan para nabi, sahabat, pahlawan, ulama, para waliyullah dan lain-lain merupakan bentuk cerita yang sangat dibutuhkan untuk diberikan pada mereka. Film-film kartun yang berisi kisah-kisah luhur juga baik untuk dipertontonkan kepada mereka.
Cerita-cerita yang mengandung dasar-dasar dan nilai-nilai spritualitas seperti di atas mesti disampaikan kepada anak-anak sedini mungkin, tentunya dengan gaya, pola, dan teknik bercerita yang menarik hati mereka. Bukan dengan gaya bercerita yang kaku, datar, dan menjenuhkan.
Selanjutnya, apa yang mereka dengar, saksikan, dan alami di masa kanak-kanak akan menjadi hipnoterapi bagi mereka. Ini amat penting disadari, sebab 88% perilaku seseorang digerakkan oleh alam bawah sadarnya. Sedangkan alam bawah sadar ini tersusun dari rekaman masa lalu. Fenomena ini pernah ditegaskan oleh Komaruddin Hidayat dengan merujuk pada buku Hypnotherapy for education dan pengalaman pribadinya.
Oleh karena itu, cerita-cerita ini penting sekali untuk kita lirik kembali sebagai sebuah media pembelajaran yang amat efektif bagi perkembangan kecerdasan anak-anak, baik kecerdasan intelektual (mereka terlatih untuk mengingat dan menceritakan kembali), kecerdasan moral, emosional ataupun kecerdasan spiritual. Sebab, dari cerita-cerita itu mereka bisa meniru dan meneladani kebaikan dari tokoh yang ada dalam cerita tersebut.
Apalagi saat ini, anak-anak kita lebih sering mendengar dan menonton cerita-cerita yang disuguhkan oleh televisi dan film-film yang banyak dibuat oleh orang-orang Barat yang notabene non-muslim. Tayangan sinetron untuk remaja dan orang dewasa juga bisa ditonton oleh anak-anak dengan bebas. Sungguh sangat kita sayangkan, jika memori otak anak-anak yang kita sayangi ternyata lebih banyak berisi rekaman-rekaman yang yang kurang baik dan tidak islami. Otak mereka secara lambat-laun telah disusupi oleh tontonan-tontonan yang sangat tidak mendidik, terutama untuk anak-anak seusia mereka.
Kelima, the toy age (masa bermain).
Anak dan permainan merupakan dua hal yang sepertinya tidak akan pernah bisa dipisahkan. Berpikir tentang anak selalu menimbulkan asosiasi mengenai permainan. Dunia nak-anak memang tidak bisa dilepaskan dari dunia permainan. Sepertinya, tidak akan ada anak-anak yang bisa bertahan hidup tanpa permainan.
Dengan demikian, berarti permainan bagi anak-anak atau anak-anak yang bermain bukan merupakan sebuah kejahatan. Kita tidak perlu selalu marah-marah melihat anak-anak kita bermain. Sebab, pada dasarnya, ketika mereka bermain, mereka sedang belajar banyak hal dalam kehidupan mereka: tolong-menolong, motivasi berprestasi, menjaga harga diri, dan berlajar untuk siap kalah. Ljublinskaja, seorang psikolog asal Rusia mengatakan bahwa permainan merupakan pencerminan realitas, sebagai bentuk awal memperoleh ilmu pengetahuan. Lebih jauh Vigotsky juga pernah mengatakan bahwa permainan bisa menciptakan daerah dan sumber perkembangan yang sehat; suatu perkembangan yang merupakan proses seumur hidup. Bahkan, bagi orang dewasa, permainan bisa menyegarkan pikiran setelah seharian bekerja dan otak sedang mengalami kelelahan. Seperti pernah ditegaskan oleh Schaller bahwa permainan bisa memberikan "kelonggaran" sesudah orang melaukan tugasnya dan sekaligus mempunyai sifat "penyegeran". Terkait dengan sifat "penyegaran" tadi, ia menyatakan: bila orang Inggris menderita karena jatuh cinta, maka ia akan bermain tennis sebentar dan semuanya beres kembali.
Di sisi lain, permainan bisa menjadi media mengeratkan ikatan emosional dan kasih sayang antara orang tua dan anak. Pada saat bermain, anak-anak seringkali membutuhkan bantuan orang tua, terutama ibu, sebagai orang terdekat dengan dirinya. Pada saat mendampingi anak-anak bermain itulah, kita, orang tua, bisa mengajarkan banyak hal kepada mereka. Sutton-Smith berpendapat bahwa interaksi ibu-anak merupakan sumber fundamental permainan dengan aspek-aspek motivasional, kognitif, dan afektif. Pada masa-masa selanjutnya, permainan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan aspek-aspek tersebut karena permaian baru akan timbul bila tercipta suasana komunikasi yang aman
Sayangnya, jenis permainan yang banyak beredar di kalangan masyarakat (khususnya anak-anak) jarang sekali (untuk tidak mengatakan tidak ada) yang membantu perkembangan mental, intelektual, atau moral dan spiritual mereka. Permainan-permainan itu betul-betul hanya sekadar permainan an sich, yang dirancang demi menarik perhatian anak-anak tanpa pernah mempertimbangkan dampak-dampak psikologis dan moral sosial yang ditimbulkan oleh permainan tersebut.
Sangat menyedihkan sekali jika dunia mereka yang indah itu harus direnggut dan dikotori oleh produk-produk teknologi mutakhir yang lebih berorientasi pada kepentingan pasar (bisnis dan keuntungan finansial) belaka. Sementara itu, masih banyak diantara kita, para orang tua, yang belum menyadari keadaan tersebut secara baik dan bijaksana sehingga membiarkan anak-anak mereka menimba ilmu pengetahuan dari apa saja yang mereka lihat dan dengar dari lingkungan mereka: apa saja, termasuk hal-hal yang bisa meracuni kehidupan mereka. Padahal anak-anak adalah bagian terpenting dari masa depan kehidupan manusia.
Di sini peran orangtua betul-betul menjadi taruhan agar anak-anak bisa mendapatkan pengetahuan yang baik pada saat mereka bermain. Orangtua dituntut untuk juga kreatif dalam menciptakan permainan-permaian yang mendidik dan menarik untuk anak-anak. Paling tidak, meniru atau memodifikasi jenis-jenis permainan yang sudah agar menjadi lebih baik dan mengandung nilai-nilai pedagogis yang tinggi untuk perkembangan anak-anak kita ke depan.

Keenam, imitation age (masa peniruan).
Pada masa ini anak-anak akan meniru apa saja yang mereka lihat dan saksikan dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Gaya bahasa, berbicara, berjalan, tidur, makan dan lain-lain yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitarnya akan mereka tiru dan selanjutnya semua itu akan menjadi bekal bagi mereka untuk mengarungi kehidupan yang lebih luas, kelak ketika mereka sudah besar.
Oleh karena itu, sikap dan prilaku anak-anak sebenarnya merupakan gambaran dan prototype dari “seluruh” rangkaian kehidupan yang dijalani oleh orang-orang di sekitar mereka, terutama ayah dan ibunya. Semua prilaku dan sikap orang tua (parental trait) memiliki pengaruh yang kuat dalam diri anak. Tidak berlebihan jika Barlow menyatakan bahwa sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan (imatation) dan penyajian contoh perilaku (modelling).
Sigmund Frued (1856-1939) juga pernah menegaskan bahwa keberagamaan seorang anak akan terpola dari tingkah laku bapaknya. Frued menyebut pengaruh ini dengan father image (citrabapak). George Herbert Mead menyebut mereka sebagai significant others, sementara Richard Dewey dan W.J.Humber menyebut mereka sebagai affective others. Apapun nama dan sebutannya, yang jelas, anak-anak seringkali merupakan cermin dari kehidupan orang tuanya.
Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa seorang anak yang gaya bahasanya lembut, santun, dan abasah (menggunakan bahasa halus) berarti gaya bahasa orang tuanya juga begitu. Demikian juga sebaliknya. Anak-anak yang hidup di pinggir pantai rata-rata bernada tinggi saat berbicara karena orang-orang di sekitar mereka memang seperti itu.
Maka keteladanan yang baik dari orang tua merupakan kata kunci (keyword) utama untuk memberikan bekal yang baik bagi anak-anak. Nampaknya, keteladanan inilah yang menjadi kunci utama kesuksesan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Kesesuain kata dan perbuatan yang ditampilkan oleh beliau saw. menjadi titik utama daya tarik para murid beliau untuk meniru semua yang beliau lakukan. Kondisi ini dilukiskan oleh Munir D Ahmed dengan pernyataannya: Everything he said or did was taken seriously by the muslims. (Apapun yang beliau katakan atau beliau kerjakan diterima atau diambil secara serius oleh orang-orang Islam.
Dalam kesempatan lain, dalam buku Tarbiyat al-Awlâd fî al-Islâm-nya, Dr. Abdullâh Nâshih ‘Ulwân melukiskan pentingnya keteladanan dan sejauh mana pengaruhnya dalam diri anak-anak melalui pernyataanya
Keteladanan dalam pendidikan merupakan media yang sangat efektif dalam membentuk budi pekerketi anak termasuk membentuk kepribadian dan interaksi sosialnya. Hal itu terjadi karena di mata mereka seorang pendidik merupakan sosok ideal dan teladan yang baik. Mereka akan meniru segala prilaku dan budi pekertinya, baik disadari atau tidak.

Akhirnya, sekarang tinggal bagaimana kita, saya dan Anda, betul-betul bisa menjadi orang tua yang baik dan bijaksana serta mencintai dan menyayangi mereka semua berdasarkan pengetahuan yang memadai tentang kondisi psikologis mereka, bukan cinta dan kasih sayang yang hanya berlandaskan sekadar emosi. Sebab cinta yang bertirai emosi selalu saja berdampak pada ketidaknyamanan. Hati-hati!

DAFTAR PUSTAKA
al-Abrâsyî, Muhammad ‘Athiyyah. al-Tarbiyyah al-Islâmiyyah wa Falâsifatuhâ, Kairo: Dâr al-Fikr, tt

Clark, WH. The Psycchology Of Religion, An Introductian to Religious Ekperience and Behaviour. New York : The Macmillan Company. 1978

Darajat, Zakiyah, Prof. Dr. Psikologi Islam. Jakarta : Bulan Bintang. 1970

Hamid, Muhyiddin Abdul, Kaifa Nurabbi Awladana Islamiyyan atau Kegelisahan Rasulullah Mendengan Tangis Anak, Terj. A. Wahid Hasan. Yogyakata : Mitra Pustaka. 1999.

Hasan, Abdul Wahid. Hikayat dan Pengembangan SQ Anak, Kompas, edisi Jum’at 6 Juli 2007.

Khâliq, Hâmid Abdul. Khuzdî bi Yadi Thiflik ilâ Allah. Kairo: Dâr al-Basyar. Tt

Monks, A.M.P. Knoers dan Prof. Dr. Siti Rahayu Haditono, Psikologi Perkembangan, Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: UGM Press, Cet. XIII, 2001

Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan, Teoritis dan Praktif. Bandung: Remaja Rosda Karya, Cet. V. 1991

Rajih, Hamdan Al-Syarif. Dr. Kaifa Nad’u Al-Athfal. TP. TT.

Soesilowindradini, M.A. Psikologi Perkembangan. Surabaya: Usaha Nasional. Tt

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999.

Ulwân, Abdullâh Nâhih. Tarbiyat al-Awlâd fî al-Islâm, Beirut: Dâr as-Salâm, Cet. IX. 1985



Selengkapnya...

Mencintai Nabi Yang Juga Manusia

(Refleksi Memperingati Maulid Nabi)

Dalam berbagai kesempatan, Rasulullah saw. selalu menegaskan kepada para sahabatnya bahwa beliau adalah manusia biasa seperti mereka. Manusia yang juga mengalami kesedihan, sakit, luka, lapar, ingin tidur, makan, menikah, buang air, dan sifat-sifat alami kemanusiaan yang lain. Pesan "kemanusian" beliau ini diabadikan dalam Alquran, "Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian (hanya saja) aku diberi wahyu (Q.S. Al-Kahfi: 110).
Suatu ketika (setelah penaklukan kota Mekkah), beliau pernah mengatakan –kepada seorang laki-laki yang datang menghadap beliau dalam keadaan gemetar dan diliputi rasa takut, untuk menyampaikan keinginannya membai’at beliau--: Tenangkan dirimu! Saya bukan malaikat. Saya hanyalah seorang anak laki-laki dari seorang perempuan Quraisy yang biasa makan al-qadîd (daging yang dikeringkan dipanas matahari dan diberi garam). (HR. Ibn Mâjah).
Sebagai manusia biasa, beliau juga pernah melakukan kesalahan dan kekeliruan, meskipun masih dalam batas-batas kemanusiaan yang sangat wajar. Kesalahan beliau di antaranya diabadikan oleh Allah swt. dalam surat ‘Abasa ayat 1-16, yaitu ketika bermuka masam dan kurang memerhatikan Ibn Ummi Maktûm, seorang sahabat yang buta, yang datang kepada beliau agar beliau membacakan ayat-ayat al-Qur’an.
Inilah sisi kemanusiaan Rasulullah yang seringkali diabaikan oleh para pengikutnya. Mereka lebih suka memuja-muja beliau dengan pujian yang berlebihan dan melampaui batas rasional kemanusian. Rasul sampai dilukiskan sebagai seorang yang "bercahaya" sehingga bayangannya tidak tampak, karena cahaya beliau lebih benderang daripada matahari. Kalaupun misalnya ini benar, itu merupakan –meminjam istilah Annemarie Schimmel-- "materialisasi sifat-sifat spiritual beliau". Itu bagian dari mukjizat yang tidak akan dipamerkan secara terus menerus. Kalau beliau bercahaya seperti matahari, berarti beliau bukan manusia. Tetapi malaikat yang memang diciptakan dengan cahaya.
Rasul sangat tidak suka dipuja secara berlebihan, apalagi sampai dituhankan. Pesan beliau, "Janganlah kalian memujiku berlebihan sebagaimana orang Nasrani memuji Isa a.s. secara berlebihan. Aku adalah hamba-Nya…(HR. Bukhârî, Ahmad dan Ibn Mâjah)
Rasul adalah manusia biasa, seperti kita. Bedanya, beliau telah mampu menaklukkan instink-instink dan kehendak-kehendak diri (nafsu)-nya sehingga pada akhirnya dapat memanfaatkan mereka untuk hal-hal positif dan terpuji, yaitu patuh kepada Allah sepanjang perjalanan hidupnya, baik dalam konsep ataupun dalam praktik kesehariannya. "Penaklukan diri" inilah yang oleh orang sufi disebut sebagai rahasia "perang suci yang paling dahsyat" (al-Jihâd al-Akbar). Inilah perang yang sesungguhnya. Dan Rasul telah memenangkan perang tiada usai tersebut. Rasul telah berhasil melampuai sekat-sekat yang menghalangi antara diri dan Tuhan.
Wajar jika kemudian beliau menjadi manusia sempurna (al-insân al-kâmil), sehingga "kehadirannya selalu menebarkan aura kemuliaan" seperti dinyatakan oleh Martin Lings. Wajar juga jika seluruh aspek kehidupan dan profesi beliau selalu menarik untuk ditelaah dan dibanggakan. Menjadi pengembala kambing, pengusaha sukses, suami, pendidik, panglima perang, pertapa, muballigh, dan lain-lain adalah bagian dari sisi kehidupan beliau yang semuanya berlangsung secara memukau dan elegan. Tidak berlebihan jika Lamartine, sejarawan asal Perancis, memuji beliau dengan menyatakan, is there anyman greather than Muhammad?

Mencintai Rasul Dengan Benar
Cinta Rasul merupakan syarat utama bagi kesempurnaan keberislaman seseorang. Tidak ada orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak mencintai rasul-Nya. Demikian juga sebaliknya. Cinta Rasul adalah bagian dari wujud cinta kepada Allah. "Katakanlah (Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu (Q.S. Ali Imrân: 31)
Semua muslim, yang paling awam sekalipun, menyadari bahwa mencintai Rasul merupakan kewajiban. Bahkan jika ada orang yang mencoba menghina beliau, mereka akan segera bergolak untuk tampil menyuarakan pembelaan. Kasus novel Salman Rushdie (The Satanic Verses) dan lukisan wajah beliau oleh seniman Swiss telah terbukti menuai gelombang protes dari muslim seluruh penjuru dunia.
Reaksi seperti itu tidak salah karena itulah salah satu ekspresi dari penghormatan mereka kepada Nabi. Akan tetapi, lebih jauh dari itu, mencintai Rasul sebenarnya bukan hanya dengan membela, merayakan maulid (atau di Turki disebut mevlut) seraya memuja beliau (apalagi memosisikan beliau sebagai super human), membacakan manâqib, mengumandangkan puisi-puisi cinta, dan aktivitas seremonial lainnya, yang seringkali hanya berhenti di kata-kata. Tidak mewujud dalam prilaku kongkrit.
Setidaknya, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan oleh orang yang mengaku mencintai Rasul. Pertama, al-Ittibâ' (mengikuti dan melaksanakan semua ajaran dan pesan-pesan beliau secara utuh dan penuh keikhlasan) dan yang kedua, al-Qudwah (meneladani pola hidup dan kepribadian beliau).
Sebagai orang yang amat mencintai pengikutnya, Rasul akan lebih bangga jika telah menyaksikan pola hidup dan ajaran-ajaran beliau diikuti, dilaksanakan dan terus ditanamkan pada generasi berikutnya, dibandingkan hanya jika beliau dikirimi shalawat, dibacakan biografinya, dan setelah itu semangat pembebasan dari kebodohan, pengembangan cinta dan kasih sayang, kejujuran, keteguhan hati, kedermawanan, kesederhanaan, menghargai orang lain, dan ajaran-ajaran beliau yang lain diabaikan dan dicampakkan dari kehidupan sehari-hari. Rasul akan sangat berduka-cita dan bersedih hati jika melihat pengikutnya telah menjadi orang yang rakus, sombong, suka mencuri, menindas, mendahulukan kepentingan pribadi, saling sikut, berpangku tangan, bodoh, dan prilaku pasif lainnya, yang jauh dan menyimpang dari garis dan ajaran profetisnya..
"Mengikuti" dan "meneladani" merupakan dua hal yang paling prinsip dan mendasar dalam tata proses mencintai Rasul. Sebab, jika ada manusia meniru pola hidup manusia lain (dalam hal ini bernama Muhamamd saw.) hal itu adalah logis, wajar, dan manusiawi karena al-muhib (yang mencintai) dan al-mahbûb (yang dicintai) sama-sama manusia. Yang tidak wajar adalah manusia meniru pola hidup binatang yang rakus dan suka memangsa binatang yang lain. Lebih tidak wajar lagi adalah manusia tidak bisa meniru pola hidup manusia lain yang lebih baik darinya. Jika manusia tidak bisa meniru manusia yang bernama Muhammad saw. berarti salah satu dari keduanya bukan manusia. Bisa saja yang hendak meniru (manusia) telah berada dalam taraf "binatang" atau yang hendak ditiru (Muhammad saw.) bukan manusia.
Sekarang kita tinggal bertanya dalam hati, siapakah yang kemanusiaannya telah hancur dan rusak sehingga tidak bisa meniru manusia lain yang lebih sempurna? Kita yang sudah berubah menjadi srigala, atau Rasul adalah seorang malaikat sehingga kepribadiannya tidak bisa ditiru? Wallâhu a'lam!

Selengkapnya...

Kamis, 2009 Februari 26

Dimensi Tersembunyi Ibadah Haji


Judul Buku : Haji, Kesaksian Seorang Muallaf
Penulis : Michael Wolfe
Penerjemah : Abdullah Ali dan Hasyim Rauf
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Januari 20‏03
Tebal : 436 halaman
(dimuat di KOran Tempo, 9 Februari 2003)

Ibadah haji merupakan program napak tilas pendiri monoteisme dunia, Nabi Ibrahim bersama isteri dan anaknya. Dengan melaksanakan ibadah haji berarti persyaratan elementer sebagai seorang muslim pada tingkat individual telah terpenuhi. Namun meskipun ibadah haji merupakan kewajiban individual, tetapi pelaksanaannya melibatkan orang banyak. Sehingga tidak aneh kalau setiap sudut dan ruang dari ziarah spiritual agung tersebut memiliki kesan yang mendalam (dan berbeda-beda) di hati masing-masing orang yang melaksanakannya. Termasuk di hati Michael Wolfe, seorang muallaf Amerika, yang hidup dalam keluarga non-muslim; ayahnya Yahudi dan ibunya Kristen.
Buku ini merekam secara baik seluruh perjalanan spiritual yang dilakukan Wolfe ke tanah suci Mekkah, baik perjalanan teretorial ataupun perjalanan simbolik. Semua fase-fase perjalanan ziarah spiritual yang dilakukannya, mulai dari pre-liminal (prapelaksanaan), liminal (pelaksanaan) dan post-liminal (pascapelaksanaan) – atau rites de passage dalam istilah Arnold van Gennep untuk menyebut serangkaian pelaksanaan ibadah haji—dituangkan secara utuh di dalam buku ini, melalui sudut pandang dia sebagai sorang penulis Barat yang sangat akrab dengan pluralisme.
Bagi Wolfe, haji adalah ritual yang unik di antara lima rukun Islam. Persaksian, salat, puasa, dan zakat sama-sama berbagi menanggung basis etika. Haji melampaui semua itu, melampuai masyarakat. Makna di dalamnya adalah sebagai titik balik, suatu ritual perjalanan yang diselesaikan dengan dua kaki. Saya secara khusus mengagumi peluh dan simbol-simbol yang mengalir bersama. Ibadah haji telah menyediakan suatu kebaktian yang telah hilang di Barat sejak masa perjalanan suci ke Yerusalem di Abad Pertengahan.
Sesuai dengan latar belakang kehidupannya, nampak bahwa dari sekian rangkaian ibadah haji, yang paling banyak memberikan kesan mendalam dalam kehidupannya adalah sejak dia memulai memakai pakaian ihram, sebagai titik awal pelaksanaan haji. “Pakaian ihram memiliki pengarauh yang kuat pada saya. Di satu sisi ia mengakhiri masa-masa persiapan saya. Di sisi lain ia juga mengakhiri diri saya sendiri. Pakaian seragam meniadakan perbedaan kelas, dan budaya. Yang kaya dan miskin berkumpul bersama di dalamnya, tampak seperti orang-orang yang menyesal dalam sebuah lukisan Bosch. Pakaian ihram sama demokratisnya dengan kain kafan”. (hal. 209)
Wolfe memang sangat tidak simpati terhadap orang-orang Eropa maupun Amerika yang menjadikan ras sebagai kategori sosial. Mereka cendrung mengkotak-kotakkan orang berdasarkan ras. Sementara di dalam Islam, Wolfe merasakan secara langsung perlakuan dan sambutan yang hangat dan bersahabat dari muslim yang lain (misalnya ketika Wolfe di Maroko, Afrika ataupun ketika di Eropa). Karena, bagi Wolfe, orang-orang Islam menggolongkan manusia berdasarkan kualitas iman dan amalnya. “Dengan latar belakang seorang pluralis, tentu saja saya sangat menekankan persoalan rasisme dan kebebasan” tuturnya dengan meyakinkan. Berangkat dari kekaguman inilah, Wolfe mendukung pernyataan Malcolm X yang cukup ‘provokatif’: “Amerika perlu memahami Islam, karena inilah satu-satunya agama yang menghapuskan persoalan ras dari masyarakat.” (22)
Wukuf di padang Arafah di tengah lautan manusia yang nyaris tak bertepi dengan segala ragam jenis ras, suku , kulit, bahasa dan lain-lain, juga memberikan kesan mendalam di hati Wolfe. Arafah, baginya merupakan gambaran mini mahsyar, tempat orang-orang datang menghadap Tuhan dengan penuh ‘ketelanjangan’: tidak memiliki apa atau siapa. Semua topeng dan atribut kemanusiaan yang sering dimanfaatkan untuk membodohi orang lain atau menyembunyikan ‘borok’ di dalam dirinya, sekarang tidak bermakna. “Arafah adalah merupakan bentuk luar pelatihan untuk menghadapi Hari Pengadilan “ kata Wolfe dengan kesan medalam tentang peristiwa besar tersebut.(h. 311).
Walaupun Wolfe baru beberapa bulan masuk Islam, namun gaya penuturannya yang lembut, jujur, polos dan (bahkan) lugu, justeru semakin menambah nilai otentisitas pengalaman petualangan spiritual yang dia jalani. Dengan buku ini Wolfe banyak memberikan informasi ‘baru’ kepada kita tentang sisi -sisi terdalam dari spiritualitas dan relijiusitas ibadah haji yang selama ini masih tersembunyi. Tapi tentu belum semunya!



Selengkapnya...

Permainan, Upaya mencerdaskan Moral Anak


Judul Buku : Mengasah Kecerdasan Moral Anak Melalui Permainan Sepuluh Menit
Penulis : Janie C. Miller
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : I, Matet 2003
Tebal : 234 halaman
(dimuat di Media Indonesia, 8 Juni 2003)


Dunia anak-anak tidak bisa dilepaskan dari dunia permainanan. Tidak ada anak yang bisa hidup tanpa permainan (game). Sementara di sisi lain, jenis permainan yang banyak beredar di kalangan masyarakat (khususnya anak-anak) jarang sekali (untuk mengatakan tidak ada) yang membantu perkembangan mental, intelektual dan bahkan moral dan spiritual mereka. Permainan-permainan itu betul-betul sekedar permainan an sich, yang dirancang demi menarik perhatian anak-anak, tanpa pernah mempertimbangkan dampak-dampak psikologis dan moral-sosial yang ditimbulkan oleh permainan tersebut.
Sangat menyedihkan sekali, jika dunia mereka yang indah dan suci itu harus direnggut, didera atau bahkan dikotori oleh produk-produk teknologi mutakhir yang lebih berorientasi pada kepentingan pasar (bisnis atau keuntungan finansial) belaka. Sementara itu, masih banyak orang tua (sebagai guru utama anak-anak) yang belum menyadari keadaan tersebut secara baik dan bijaksana sehingga membiarkan anak-anak menimba pengetahuan dari apa saja yang mereka dengar, lihat dan rasakan dari lingkungan mereka : apa saja, termasuk hal-hal yang bisa meracuni kehidupan mereka. Padahal anak-anak adalah bagian terpenting dari masa depan kehidupan manusia. Mereka, seperti kata Dr. Hamdan Rajih, adalah ab wa um al-mustaqbal (bapak dan ibu masa depan).
Berangkat dari keprihatinan di atas serta di dorong oleh rasa ingin turut serta dalam menyelamatkan dunia anak-anak dan masa depan secara umum, Miller –seorang pakar dunia anak terkemuka di Amerika, sekaligus ibu dari lima orang anak-- mencoba menggugah kembali kesadaran orang tua untuk bisa “mencuri waktu” 10 hingga 15 menit -- di tengah-tengah kesibukan mengurus rumah tangga, bekerja di kantor dan lain-lain—untuk bermain bersama anak-anak. Miller dengan penuh semangat dan dedikasi yang tinggi berjuang keras untuk bisa menyuguhkan ‘makanan’ kesukaan semua anak, yaitu “permainan” yang penuh makna bagi perkembangan moral mereka yang sedang terancam ‘hangus’. Semua permainan yang ditawarkan Miller dalam buku ini sangat praktis dan tidak memakan waktu yang lama (hanya berkisar antara 10 hingga 15 menit). Bahan-bahan permainannya pun sangat mudah didapatkan di sekitar kita, seperti spidol, kertas, papan tulis, jeruk, apel, telur, lilin, tusuk gigi hingga permen dan sebutir kelereng.
Ada 51 jenis permainan kreatif yang ditawarkan Miller di dalam buku ini. Semua permainan itu sengaja dirancang untuk membantu orang tua mengajarkan berbagai hal, tentang kehidupan dan nilai-nilai, secara baik dan bijaksana, tetapi tidak membosankan anak-anak. Dengan permainan yang ditawarkan Miller ini, anak-anak memasuki sebuah “proses pembelajaran” penting dalam kehidupan mereka, tanpa mereka sadari, serta dengan suasana hati yang riang gembira. Dengan permainan ini, mereka bisa belajar tentang cinta dan kebaikan, kejujuran dan integritas, kepercayaan dan keyakinan, penghormatan dan tata krama hingga menetukan cita-cita dan pandangan hidup.
Permainan-permainan tersebut bukanlah jenis “permainan permanen”, tetapi masih bisa terus dimodifikasi dan dikembangkan sesuai dengan keperluan dan tuntutan yang ada. Ia lebih merupakan inspirasi awal bagi orang tua (atau siapa saja yang mencintai pendidikan dan masa depan anak-anak) untuk terus dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Yang terpenting, kata Miller, orang tua harus terus berusaha memancing dan merangsang pengembangan potensi-potensi besar yang masih terpendam dalam diri anak-anak agar bisa tumbuh dan berkembang secara baik dan sempurna. Bahkan, lanjut Miller, orang tua mungkin harus menganggap anak-anaknya sebagai “guru” dalam beberapa aktivitas permainan tersebut (hal. 32).
Dengan demikian, antara orang tua dan anak akan terjadi komunikasi yang dialogis, harmunis dan penuh cinta. Dari sinilah, maka diharapkan, kata Miller, rumah kita bisa menjadi sekolah yang para lulusannya, suatu hari nanti, akan menjadi seorang anutan masyarakat
Akan tetapi, sebaik dan spraktis apapun permainan yang ditawarkan di dalam buku ini, penulis buku ini tetap menegaskan bahwa perbuatan mengasuh dan mendidik anak menjadi yang terbaik bagi masa depan adalah perbuatan yang memiliki hasil jangka panjang. Ia bukan merupakan proyek sekali jadi. Ia memerlukan proses yang tidak sebentar. Maka ketekunan dan kesabaran orang tua merupakan kata kunci dalam rangka memberikan yang terbaik bagi anak-anak.
Rasanya, tidak ada pangilan yang lebih luhur daripada panggilan untuk menjadi orang tua yang bisa membimbing anak-anak dengan penuh cinta dan kasih sayang, ke arah tujuan jiwanya yang bening dan suci itu.
Akhirnya, mengutip pernyataan Miller, “Semoga Anda akan membaringkan diri Anda di tempat tidur dengan bibir tersungging karena mengetahui hari ini Anda telah menghabiskan 10-15 menit penuh makna dengan anak anda”.


Selengkapnya...

Ingin Menjadi Penulis Fiksi, Berbohonglah

Judul : Berguru Kepada Sastrawan Dunia, Buku Wajib Menulis Fiski
Penulis : Josip Novakovich
Penerbit : Helvy Tiana Rosa dan Hilman Hariwijaya
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : I, Mei 2003
Tebal : xiii + 333 halaman
(dimuat di Jawa Pos, 27 Juli 2003)

Menulis merupakan sarana yang sangat efektif untuk mengabadikan gagasan dan ide-ide kita, sekaligus menyebarkannya ke dalam lingkup yang lebih luas, kepada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Menulis juga bisa membantu mensistematisir alur pemikiran, sehingga gagasan yang kita sampaikan (baik melalui tulisan, ataupun melalui lisan) tidak melompat-lompat dan tampak runtut, runut dan utuh. Akan tetapi, ternyata tidak semua orang bisa menulis.
Dengan tidak berpretensi “menggurui”, buku ini hadir untuk mengantarkan kita menjadi penulis yang baik dan bertanggung jawab. Agar kita menjadi penulis, satu hal penting yang ditekankan oleh Josip Novakovich, penulis buku ini, yaitu: “menulislah!”. Menulis dengan sebebas-bebasnya, sekehendak hati, tanpa merasa terikat dengan aturan dan teori apapun yang seringkali justeru memenjarakan kreativitas. Bagi Novakovich, pembicaraan tentang bakat, inspirasi, kegeniusan dan lain-lain, yang banyak diungkapkan oleh para penulis sebelumnya tentang hal-hal yang bisa menjadikan seseorang sebagai penulis, adalah omong kosong. “Duduk dan mulailah menulis!”. “Menulislah, dan jangan menghabiskan banyak waktu hanya untuk memperindah cerita. Tuangkan hal-hal yang Anda pikirkan dengan gamblang!” Itulah wasiat-wasiat penting yang sering dilontarkan Novakovich dalam buku ini, sejak dari awal.
Melalui buku ini, Novakovich mengajak kita semua untuk menulis dan menulis, dan tidak perlu menunggu ilham untuk memulainya. Karena bagi Novakovich, ilham atau inspirasi bisa hadir saat seseorang sudah atau sedang menulis. Menulis, juga tidak perlu memperhatian apakah tulisan itu baik apa tidak, sistematis apa tidak, runtut, tidak melompat-lompat dan sebagainya. Semua itu adalah penyakit yang perlu dicampakkan jauh-jauh oleh para penulis, terutama penulis pemula, seperti yang menjadi sasaran utama buku ini.
Novakovich sendiri, sebenarnya adalah orang biasa, sebelum akhirnya dia menjadi penulis fiksi ternama yang berhasil meraih berbagai penghargaan di Amerika Serikat. Yang menjadikan dia sebagai penulis ternama adalah ketekunannya berlatih untuk terus menulis, hingga ratusan halaman, tanpa memperdulikan sistematika penulisan, strutktur kalimat dan lain sebagainya. Akan tetapi, berdasarkan pada pengalaman pribadinya tersebut, pada akhirnya dia pun menyadari bahwa, untuk mempercepat proses pembelajaran ini diperlukan teori, bimbingan dan pengarahan. Untuk itulah dia menulis buku ini.
Namun, meskipun Novakovich banyak memberikan pengarahan yang sangat cerdas dan bijaksana untuk membimbing semua pembaca buku ini menjadi penulis fiksi yang handal, dia tetap menekankan pentingnya latihan, bukan sekedar menumpuk teori. Dengan demikian, untuk mengantarkan pembaca buku ini menulis, Novakovich, di setiap akhir pembahasannya, selalu memberikan kesempatan kepada mereka semua untuk melatih diri menuangkan apa yang bersemayam di dalam pikiran menjadi bahasa dalam rangkaian kata-kata.
Dengan tekun sekali, Novakovich memberikan bimbingan dan berbagai pertanyaan sebagai bentuk kehadiran dia secara tidak langsung, saat-saat kita sedang melatih diri menuangkan apa yang ada dalam pikiran. Saat sedang berlatih, sungguh, Novakovich seperti terasa hadir di samping kita dengan segala kearifan dan motivasinya yang sangat canggih dan memabakar. Di sinilah letak utama kelebihan buku ini. Ia sanggup membangkitkan semangat kita melalui kata-katanya yang lugas dan komunikatif.
Karena buku ini lebih ditujukan kepada penulis fiksi pemula, maka Novakovich banyak menampilkan contoh-contoh cerita fiksi, hampir di setiap halaman. Meskipun contoh-contoh tersebut sedikit banyak mengalami ‘distorsi’ bahasa ketika menjadi Bahasa Indonesia, namun hal tersebut tidak sampai merusak alur cerita dan tujuan utama yang diinginkan. Contoh-contoh tersebut dimaksudkan agar bisa menjadi inspirasi awal untuk terus dikembangkan dengan menampilkan karakter tokoh, setting, sudut pandang, adegan, dialog ataupun plot, yang berbeda. Berangkat dari kreativitas memodifikasi cerita-cerita yang sudah ada –tidak hanya yang disebutkan dalam buku ini— pada akhirnya kita akan sampai pada level penulisan yang lebih orisinil.
Selain itu, kisah-kisah bagaimana para penulis besar seperti Milan Kundera, Anton Chekhov, Mark Twain, Charles Dickens, Leo Tolstoy, Nikolai Gogol, Tobias Wolff dan lain-lain menemukan inspirasi, membuat penokohan, alur cerita, setting dan lain-lain banyak diungkap oleh Novakovich, untuk membantu kita memperkaya pengalaman. Pada intinya, mereka menuangkan gagasan-gagasan cemerlang mereka ke dalam bentuk tulisan, banyak yang berangkat dari peristiwa ‘kecil’ yang sepintas tidak memiliki arti apa-apa, seperti keributan kecil yang terjadi di kafe, keluarga yang bermain bulu tangkis dan lain-lain. Tetapi kemampuan dan kelihaian mereka ‘berbohong’ untuk memberikan bobot yang tinggi pada tulisannya memang perlu ditiru, untuk selanjutnya dicoba. Ternyata ‘berbohong’ sesakali menjadi penting, bahkan sangat penting, utamanya dalam menulis karya fiksi. Menarik sekali apa yang dikatakan Novakovich: “Jika Anda sudah terbiasa berbohong, mengapa tidak menyalurkan kebiasaan yang penuh dosa itu dengan menulis fiksi?” (hal. 11)
Akhirnya, “menulis” dan kreativitas berbohong adalah kunci utama untuk menjadi penulis fiksi.



Selengkapnya...

Rabu, 2009 Februari 25

Hidup Nyaman Dengan Kecerdasan Spiritual

Judul Buku :Rahasia Sukses Hidup Bahagia, Kecerdasan Spiritual, Mengapa SQ Lebih Penting daripada IQ dan EQ
Penulis : Sukidi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I September 2002
Tebal : 133 halaman

Krisis dunia saat ini nampak dalam semua sektor kehidupan. Dan bukanlah merupakan kesimpulan yang simplistis jika dikatakan bahwa semua itu berakar pada krisis dalam diri manusia sendiri. Fenomena krisis ini tidak bisa hanya didekati sebagai bagian dari krisis intelektual dan moral saja. Lebih jauh dari itu adalah bahwa krisis global yang sudah sedemikian kompleks dan multi-dimensi ini, sebenarnya berawal dari krisis spritual (spiritual crisis) yang bercokol dalam diri manusia itu sendiri. Carl Gustav menyebut krisis spiritual ini sebagai penyakit eksistensial (existential illness), Christina dan Stanislav Grof menyebutnya sebagai “darurat spiritual” (spiritual emergency), sementara pakar yang lain menyebut hal tersebut sebagai keterasingan spiritual (spiritual alienation), patologi spiritual atau bahkan Micahael Kearney menyebutnya sebagai penyakit jiwa (soul pain).
Semua problem psikologis-eksistensial-spiritual di atas jelas-jelas menggambarkan adanya keterkoyakan yang sudah begitu parah dalam ruang spiritual (spiritual space) pada diri manusia; suatu ruang dimana manusia terfragmentasi secara psikologis-spiritual, khususnya dari pusat diri (self-centre). Selain itu, hal tersebut juga menggambarkan telah terjadi “keterputusan diri” manusia, baik dari diri sendiri (cut of from my self), dari orang lain (from others around me) dan bahkan dari Tuhannya (from God). Inikah lonceng kematian diri kita yang ditandai dengan aksi kekejaman, kekerasan, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan atau bahkan pengeboman? Inikah yang menyebabkan merajalelanya korupsi, kolusi dan nepotisme seperti yang melanda dan mendera negara kita?
* * *
Buku ini lahir dari kegelisahan seorang intelektual muda, Sukidi -- yang banyak bergelut dengan masalah “new age” yang ditandai dengan maraknya tema-tema dan diskusi tentang pentingnya kembali pada spiritualitas atau pada kekuatan dan kesucian hati nurani-- untuk ikut serta memberikan solusi terhadap berbagai masalah ksiris yang melanda manusia.
Sukidi melihat bahwa akar-akar krisis dan permasalahan hidup yang dialami dan diidap oleh kebanyakan manusia modern seperti disinggung di atas adalah bermula dari keengganan mereka untuk mengisi “ruang spiritual” dalam diri mereka dengan hal-hal yang positif. Hal ini menyebabkan mereka terpental jauh ke pinggiran eksistensi diri (dalam bahasa keagamaan dinisbatkan sebagai “terpentalnya diri dari Tuhan sebagai asal dan orientasi akhir kehidupan manusia”). Padahal seperti kata Schumacher, hidup tanpa hubungan diri dengan sumber diri (disconnection of the Source) bisa berakibat negatif pada keharmonisan hidup manusia, baik secara psikologis ataupun spiritual. Inilah kondisi yang terfragmentasi, terutama dari pusat diri.
Dengan demikian, lanjut Sukidi, jika manusia menginginkan kesehatan spiritual yang maksimal maka sewajarnya mereka menjalani kehidupan ini dengan mengambil lokus dalam pusat diri, pusat spiritual, pusat hakiki sense of security manusia, yang sebenarnya ada dan bersemayam dalam diri manusia sendiri.
Untuk mewujudkan itu semua, diperlukan jenis kecerdasan lain (third intelligence: kecerdasan ketiga), selain kecerdasan intelektual (IQ) ataupun kecerdasan emosional (EQ), yaitu apa yang disebut sebagai kecerdasan spiritual (SQ; spiritual quotient). SQ adalah paradigma kecerdasan spiritual. Artinya, segi dan ruang spiritual manusia bisa memancarkan cahaya spiritual (spiritual light) dalam bentuk kecerdasan spiritual. SQ inilah yang bisa merubah secara kreatif segela bentuk kegelisahan, keterasingan dan kehampaan hidup menjadi sebuah kekuatan dan motivasi diri yang kuat untuk mengantarkan diri pada sebuah kepribadian yang matang dan menyeluruh, arif, bijaksana dan penuh cinta kasih.
Ada beberapa alasan mendasar yang dipakai Sukidi untuk membangun argumentasinya bahwa SQ lebih penting dari IQ dan EQ. Di antaranya adalah bahwa SQ mampu mengungkap segi perenial dalam sturuktur kecerdasan manusia; segi yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan sudut pandang psikologi atau sains modern. SQ menjadi lokus kecerdasan yang berfungsi tidak saja sebagai pusat kecerdasan, tetapi juga berfungsi sebagai fondasi untuk lebih mengefektifkan potensi IQ dan EQ. SQ-lah yang bisa memfasilitasi dialog yang harmonis antara IQ dan EQ. Sehingga rumusan holistik yang ditawarkan Sukidi adalah mind-body-soul (pikiran-badan-jiwa; intelektual-emosional-spiritual).
Selain itu, SQ bisa memberikan kebahagiaan sejati. Sebab, pada hakikatnya, kebahagiaan sejati (true happiness) terletak pada kebahagiaan spiritual (spiritual happiness). Sementara IQ dan EQ cenderung mengarah pada arogansi intelektual, rakus, material, dan perbudakan emosional. Keduanya selalau membelenggu state of mind manusia dengan kebahagiaan yang serba intelektual-material dan emosional.
Maka, berbeda dengan buku-buku SQ sebelumnya, konsep SQ yang tawarkan buku ini –sehingga kebagiaan dan kedamaian yang dipropagandakan bukan sekedar janji-janji semu-- sangat menekankan pentingnya SQ sebagai sebuah petualangan spiritual yang mengakar pada pengalaman kongkrit dan nyata. Sebab spiritualitas yang sebatas pengetahuan sama sekali tidak memiliki makna. Apalagi, pengetahuan seringkali justeru membelenggu pikiran manusia. SQ bukanlah “pengetahuan tentang spiritualitas” (spiritual knowledge). Jadi orang yang cerdas secara spiritual bukanlah orang yang kaya dengan pengetahuan tentang spiritual (itas). (h. 51-52)
Dengan demikian, SQ yang dimaksudkan Sukidi dalam buku ini lebih merupakan SQ yang menjadi penghayatan hidup sejati sehingga melahirkan sikap hidup yang arif dan bijaksana. Core sejati kecerdasan spiritual dengan demikian menjadi terefleksikan dalam sikap hidup yang toleran, terbuka, jujur, adil, penuh cinta dan kasih sayang terhadap sesama, tanpa membeda-bedakan jenis kulit, suku, bangsa, ataupun agama. SQ model inilah yang disebut Levin sebagai level tertinggi kecerdasan spiritual (the highest level of spiritual intelligence). Ia tidak hanya akan memberikan kebahagiaan dan kedamaian individual, tetapi lebih jauh adalah kedamaian buat semua orang. Buat dunia ini.


Selengkapnya...

Melihat Impian Besar Orang Besar


Judul Buku : Impian Dari Yogyakarta, Kumpulan Esai Masalah Pendidikan Penulis : Y.B. Mangunwijaya
Editor : St. Sularto
Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2003
Tebal : xxvii + 308 halaman

Pendidikan merupakan kebutuhan primer semua bangsa yang ingin terlepas dari jerat dan belenggu keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, ketertindasan, ketidakadilan serta ketimpangan sosial yang lain. ‘Semua masyarakat’ kita adalah produk pendidikan, baik pendidikan formal, informal ataupun nonformal. Mereka yang menjalankan gerak roda bangsa ini, dan menentukan kebijakan untuk membawa bangsa ini sesuai dengan keinginannya, baik ataupun buruk, adalah produk pendidikan. Maka tidaklah berlebihan jika pada tiga perempat abad yang silam presiden Lyndon B. Johnson pernah mengatakan dengan begitu lantangnya bahwa jawaban atas semua permasalahan yang terjadi di sebuah negara berpulang kepada satu kata : pendidikan.
Pendidikan dengan demikian menjadi kata kunci bagi perjalanan sebuah bangsa. Namun sangat disayangkan, dalam beberapa tahun terakhir ini kita seringkali dikejutkan oleh berita yang membuat hati meringis : robohnya gedung sekolah dasar yang menjadi tempat belajar anak-anak harapan bangsa, penerus perjuangan. Lebih mengerikan lagi, karena gedung-gedung sekolah yang ambruk itu justeru banyak yang berada di kawasan yang dekat dengan pemerintah pusat, DKI Jakarta, yang APBD-nya paling tinggi. Sudah sedemikan parahkan kondisi perjalanan pemerintahan kita saat ini sehingga lalai untuk meluangkan sedikit perhatian kepada aset negera yang paling penting itu? Sudah lupakah mereka semua bahwa tidak satupun dari mereka yang tidak mengenyam pendidikan di sekolah dasar?
* * *
Jika saja saat ini Romo Mangunwijaya (penulis buku ini) masih hidup, maka pastilah beliau akan menangis menyaksikan kenyataan pahit tersebut. Romo Mangun memiliki concern yang sangat tinggi terhadap masalah ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan dan (terutama) kebodohan. Fenomena di atas tidak hanya menunjukkan rapuhnya perhatian pemerintah kita terhadap masalah pendidikan, tetapi di sisi lain, juga mengindikasikan lahirnya gejala pudarnya hati nurani mereka untuk memikirkan masa depan bangsa. Perebutan kekuasaan dan berbagai kepentingan pribadi telah melalaikan mereka untuk memperbincangkan hal-hal yang seharusnya diperbincangkan, terutama tentang nasib pendidikan.
Buku ini menyoroti persoalan pendidikan di negara ini (terutama pendidikan dasar) dari berbagai aspeknya, dengan sangat tajam, kritis, dan inovatif, mulai dari persoalan anak didik, guru, metodologi pengajaran, sistem evaluasi sampai kepada peran orang tua dan masyarakat dalam mengantarkan anak-anak menuju masa depannya. Perhatian Romo Mangun terhadap anak-anak (murid) sebagai tunas suci yang akan menggantikan generasi tua amat tinggi. Baginya, anak adalah anugerah berharga dari Allah. Maka ia tetap milik Allah. Ia bukan milik orang dewasa, termasuk orang tua. Ia hanya titipan, agar pada akhirnya dikembalikan lagi kepada Allah selaku manusia dewasa, seutuh dan sebaik mungkin demi dirinya sendiri dan demi pemekaran tata alam semesta serta dunia manusia. (hal. 40)
Tidak aneh kalau kemudian di dalam berbagai tulisan Romo Mangun yang dimuat di harian Kompas ini (sejak tahun 1974-1998) , sangat banyak terfokus kepada masalah pendidikan dasar, tempat anak usia 6-13 tahun menempa diri, mempelajari kehidupan dan memekarkan cakrawala berfikirnya.
Sayangnya, di mata Romo Mangun, pola dan sistem pembelajaran yang berlangsung di dalam pendidikan dasar kita justeru telah memenjarakan dan menginjak-nginjak kemerdekaan anak-anak. Anak-anak lebih banyak dipaksa untuk menghafalkan setumpuk materi tertentu ditambah lagi harus mengikuti les tambahan di luar jam sekolah. Ini dilakukan demi tercapainya kepuasan politik atau gengsi orang dewasa (guru, termasuk orang tua). Masa kanak-kanak mereka telah direnggut sedemikian rupa. Kreatifitas, daya kritis dan potensi eksploratif yang mereka miliki telah dibunuh dan dipadamkan. Maka dengan begitu gerahnya Romo Mangun menegaskan bahwa setiap hari kita telah telah menganiaya 30 juta anak Indonesia melalui sistem persekolahan formal dengan suatu metodologi, sistem evaluasi dan struktur manajemen yang mencekik segala spontanitas, kreatifitas, daya eksplorasi serta kegembiraan proses pembelajaran anak. Kenyataan ini sudah berlangsung selama kurang lebih 30 tahun.
Menurut pengatamatan Romo Mangun, selama ini kita telah terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang definisi anak/murid yang cerdas dan pandai; anak/murid yang ‘mahatahu’ menjawab semua pertanyaan yang disodorkan kepadanya. Barometer seperti ini jelas-jelas melenceng dari yang semestinya. Inilah yang kemudian menyebabkan para guru dan orang tua memaksa anak-anaknya mengahafalkan berbagai mata pelajaran, termasuk nama orang, kota, negara, tanggal dan semacamnya. Padahal, menurut Romo Mangun, anak yang cerdas dan pandai (murid harapan) adalah anak/murid yang terampil untuk bertanya dan mempertanyakan sesuatu yang justeru tidak atau belum ditanyakan atau dipertanyakan oleh guru-gurnya. Pertanyaan itulah yang merupakan indikasi utama bahwa anak tersebut memiliki kegelisahan intelektual (sense of crisis) yang tinggi. Sebab, pada dasarnya, pertanyaan yang dirumuskan secara tepat akan melahirkan jawaban yang baik dari rahim pertanyaan itu sendiri. Di sinilah sebenarnya, menurut Romo Mangun, anak kunci rahasia kemajuan orang Barat yang sudah dicangkoki mental budaya Yunani.(hal. 206)
Maka melalui buku ini, Romo Mangun banyak menyampaikan harapan dan impian yang besar demi kemajuan bangsa ini. Pemberlakuan sila kemanusiaan yang adil dan beradab kepada anak-anak, peningkatan budget negara untuk pendidikan hingga 17 % GNP dan kerja sama yang mantap antar departemen yang terkait dengan pendidikan seperti Depdikbud, Departemen Dalam Negeri, Depag, Depkeh, Depatemen Tenaga Kerja dan lain-lain serta penghargaan yang sama antara guru TK/SD sampai ‘dosen gajah’ adalah beberapa contoh harapan dan impian Romo Mangun. Semua harapan tersebut berujung pada keinginan beliau untuk melihat generasi kita bisa menikmati dan mengenyam pendidikan yang kondusif bagi perkembangan intelektual, emosional, moral dan spiritual mereka. Karena, tegas Romo Mangun, tinggi rendahnya kualitas kebudayaan (dan iman) bangsa dapat dilihat dari indikator amat penting : sampai dimana anak dalam suatu negara dihargai, terlindungi dan terpupuk untuk bermekar alami secara kultural. (hal. 112)
Kita hanya bisa berharap impian besar Romo Mangun ini bisa mendapatkan perhatian yang besar pula dari berbagai kalangan, terutama dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan tertinggi. Impian tersebut bisa saja hari ini masih berupa mimpi, tetapi pada saatnya kelak, impian tersebut akan menjadi kenyataan. Karena, bagi Romo, segala sesuatu selalu bermula dari sekedar harapan dan impian.
Kita berharap buku ini dibaca dan dipahami secara baik oleh semua pihak yang mencintai masa depan negara ini, karena di dalam buku inilah peta pemikiran dan mainstream gagasan-gagasan besar Romo Mangun tentang pendidikan tertuang secara utuh. Semoga kita tidak terlalu lama untuk menunggu mimpi dan impian Romo Mangun tersebut menjadi sebuah kenyataan.



Selengkapnya...