Selasa, 30 Desember 2008

Membangun Kecerdasan Spiritual Anak


Setelah Daniel Goleman (pada 1990-an) berhasil meruntuhkan legenda tentang IQ-- sebagai satu-satunya alat untuk mengukur kecerdasan manusia selama abad XX-- dengan temuan barunya tentang bentuk kecerdasan yang ia sebut dengan EQ (Emotional Quotient), di akhir abad ke-20 ( 1999-an) Danah Zohar dan Ian Marshall menemukan jenis kecerdasan lain, kecerdasan ketiga, yang mereka sebut SQ (Spiritual Quotient).
Temuan keduanya bermula dari pijakan bahwa komputer bisa saja memiliki IQ yang tinggi, termasuk banyak hewan yang memiliki EQ yang tinggi pula. Tetapi baik hewan atau kompeter tidak pernah bertanya: why we have these rules or this situation (Zohar & Marshall, 2000:5). Padahal berpikir dan bertanya inilah sebenarnya yang menjadi esensi dari kemanusiaan manusia. Ibnu Khaldun menyebut kamapuan tersebut sebagai a special quality of human being. (The Muqaddimah, 1967:337)
Kecerdasan spiritual merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang akan menjadi fondasi utama untuk lebih mengefektifkan fungsi IQ dan EQ. SQ merupakan bentuk kecerdasan yang bisa menempatkan kehidupan individual kita dalam konteks yang lebih luas.SQ adalah kecerdasan yang bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah makna dan nilai (problem of meaning and value). Bahkan, SQ sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Karena “SQ merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hati dan budi, sehingga ia mampu menjadi pemimpin yang berkarakter dan berwatak positif…Seorang pemimpin harus mampu melihat sesuatu di balik sebuah kenyataan empirik sehingga ia mampu mencapai makna dan hakikat tentang manusia. Dan SQ bisa membantu meningkatkan kompetensi para pemimpin untuk mengambil keputusan”, kata Alwi Shihab dan F.M. Soseno SJ dalam sebuah seminar bertema “Mengkaji Lebih Jauh tentang Spiritual Intelligence” (Kompas, 30 Mei 2002).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Marsha Sinetar—seorang pendukung terkemuka nilai praktis spiritualitas—semakin mengembirakan dunia pendidikan dan psikologi, bahwa pada dasarnya, SQ juga dimiliki oleh anak-anak. Banyak anak-anak yang memiliki pancaran cahaya kesadaran dini (early awakening child). “Early awakeners” ini tetap eksis dan tumbuh dalam menghadapi berbagai rintangan dan mampu mendemonstrasikan kemampuannya untuk melampaui segala bentuk kesulitan dalam rangka “walk in truth.”
Anak-anak yang memiliki bakat tinggi ini (gifted children) sering mendapat gelar “The New Children”, “Children of The New Millenium”dan lain-lain. Lebih jauh, banyak pakar yang menyebut mereka sebagai ‘orang terpandai’ (the smartest people) yang pernah hidup, dan, bahkan, menggantungkan harapan keamanan dunia dan langgengnya eksistensi kemanusiaan di era milenium baru ini kepada mereka. Dalam salah satu tulisannya, Is “other worldliness” a characteristic of High Intelligence?, Bob dan Jan Davidson mengakui bahwa memang terdapat anak yang memiliki kemampuan untuk berfikir lebih jauh tentang konsep-konsep filosofis seperti keadilan, cinta, kebenaran dan eksistensi dari ‘wujud tertinggi’ (supreme being).

Menumbuhkan SQ dalam Diri Anak
Anak-anak adalah masa depan kita sendiri. Mereka ab wa umm al-mustaqbal (ayah dan ibu masa depan). Mereka hidup dan memiliki dunianya sendiri yang indah dan suci.
“Anak-anak adalah makhluk religius”, kata Mimi Doe dan Marsha Walc. Kesimpulan ini dirumuskan dari pernyataan anak-anak sendiri. Misalnya pernyataan anak umur empat tahun: “aku membayangkan Tuhan itu matahari karena dia begitu kuat dan selalu ada sewaktu kita bangun. Sinarnya masuk ke dalam diri kita tanpa kita sadari”.(Doe & Walc, 2001:31). Bahkan ada anak usia tiga tahun yang menyatakan : “kupikir Tuhan menyimpan para malikat di dalam perut-Nya”.
“All children are born geniuses”, kata B. Fuller. Masing-masing mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi Einstein, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Mother Theresa, Nelson Mandela atau bahkan menjadi Muhammad saw. Selain itu mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Hitler, Edi Amin, F. Marcos atau bahkan raja Fir’un.
Tentunya, kita menginginkan anak-anak kita menjadi yang terbaik bagi dirinya dan orang lain, sesuai dengan fitrah kemanusiaanya. Kita menginginkan mereka memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi di tengah budaya yang bodoh secara spiritual (spiritually dumb culture).
Untuk mewujudkan impian tersebut, bukanlah semudah membalik telapak tangan. Ia membutuhkan proses yang panjang dan ketekunan kita, orang tua, untuk membimbing anak-anak menuju ke sana. Apalagi saat ini, mata, telinga bahkan hati anak-anak selalu didera oleh tontonan tentang kekerasan, seksualisme, sinisme, kekacauan moral serta krisis kemanusiaan yang lain. Itu semua bisa memadamkan ‘cahaya’ kesadaran dini yang mereka miliki.
Maka, tugas orang tua semakin tidak ringan. Setidaknya, ada empat hal mendasar yang perlu dilakukan --sebagai acuan awal-- dalam rangka menyalakan kembali potensi mulia yang dimliki anak-anak;
Pertama, membiarkan atau memancing kreativitas anak-anak untuk bertanya, terutama pertanyaan yang fundamental (fundamental question), misalnya menyangkut alam raya, Tuhan bahkan mungkin tentang keberadaan dirinya sendiri, tentang cinta, keadilan, kebijaksanaan dan lain-lain.
Maka pertanyaan sekecil apapun yang dilontarkan mereka, tetap memerlukan jawaban yang bijaksana sehingga bisa merangsang pertanyaan selanjutnya yang lebih fundamental. Ini merupakan awal dari berkembangnya SQ. Sebab kata F.R. Paul dalam buku “Spiritual Intelligence Hand Book” (2001), SQ is not a “question” but is a “quest”. It is the process of thinking and living.
Inilah sebenarnya esensi dari kegunaan God-spot yang berada di dalam otak manusia. God-spot ini bukan membuktikan adanya Tuhan, tetapi ia terprogram untuk menampilkan dan melahirkan ultimate questions atau fundamental questions.
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut yang didukung oleh jawaban yang bijaksana, maka diharapkan, anak-anak bisa memiliki apa yang disebut Zohar dan Marshall sebagai “kunci mengembangkan dan mempergunakan SQ” (key to raising and using SQ) yaitu “knowing the centre, knowing what can and cannot be said about it, knowing how it can be experienced and suffused throughout the personality (Zohar & Marshall, 2000:156)
Kedua, mendengarkan mereka dengan penuh cinta, sehingga mereka bebas untuk mengekspresikan perasaan, khayalan dan perspektifnya. Anak-anak akan lebih merasa bebas untuk membagi pemikiran dan pengalaman hidupnya hanya ketika mereka berada dalam lingkungan yang menerimanya. Dengarkan mereka seolah-olah mereka seorang pahlawan. Dan dengarkan mereka seolah-olah mereka seorang nabi, kata Mimi Doe dan Walch. Jadilah orang tua yang bisa dipercaya anak-anak untuk mengungkapkan perasaannya. Sebab pada dasarnya, anak-anak memiliki perasaan mendalam seperti layaknya orang dewasa, tetapi mereka belum mempunyai perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapnya. Dengan menghormati perasaan mereka, berarti kita menghormati jiwa mereka.
Ketiga, memberikan ‘makna’ pada aktivitas keagamaan yang bisa disaksikan, dilakukan, dirasakan dan dialami secara langsung oleh anak-anak. Dalam Islam misalnya ada pelajaran shalat jenazah. Antarkan anak-anak untuk memahami kehidupan/kematian ini dengan cara yang bijaksana. Sehingga kematian bisa menjadi spirit untuk menatap kehidupan selanjutnya. Bukan menjadi sesuatu yang menakutkan, sehingga bisa menimbulkan psimisme dan keputus-asaan.
Dari sinilah diharapkan, potensi spiritualitas yang dimiliki anak-anak akan kembali bersinar dan selanjutnya akan melahirkan semacam kesadaran diri (self-awareness) pada diri mereka sebagai kriteria tertinggi dari SQ. Kesadaran diri yang selanjutnya akan menjadi parameter untuk melihat kehidupan secara lebih luas dalam kesatuan yang utuh serta lebih kaya dan bermakna. Setelah itu akan terjadi hubungan yang baik antara “diri” yang material dan “diri” yang spiriutal. Sebuah relasi ini yang oleh Michal Levin sebagai The core of spiritual intelligence. (Levin, 2000:206)
Keempat, mencoba menghadirkan kehadiran Tuhan pada anak-anak pada saat “menyebut nama-Nya” (dzikir), berdoa, dan dalam aktivitas yang lain. Dengan bahasa lain, merasakan kehadiran Tuhan dalam batas konsentrasi yang tertinggi, sehingga dia bisa merasakan ada “hubungan” yang erat antara dirinya dan Tuhan.
Pada awalnya Tuhan bisa saja hanya merupakan “kabar dari keluh” tetapi dengan latihan yang disertai ketekunan, maka seorang anak pada akhirnya akan merasakan bahwa dia memang membutuhkan Tuhan sebagai sumber kekuatan, sehingga akan tercipta semacam relasi spiritual antara dirinya dan Tuhan. Saat itulah, dia akan terhindar sejauh-jauhnya dari segala bentuk kegelisahan, keterasingan, keputus asaan dan krisis diri yang lain, karena merasakan Sang Maha Kasih berada sangat dekat dengan dirinya, melindunginya dan memberinya enegri dan kekuatan. Norman Vincent Peale mengatakan bahwa ketika sedang terjadi kontak spiritual dengan Tuhan, energi Ilahi akan mengalir melalui kepribadian, yang secara otomatis akan mempengaruhi tindakan kreatif yang orisinil. (Peale, 2002: 34).
Akhirnya, sepertinya tidak ada panggilan yang lebih luhur daripada panggilan menjadi orang tua yang membimbing anak mereka dengan penuh kasih sayang sesuai dengan arah tujuan jiwanya. Dan semua ini tentu butuh waktu, kesabaran dan doa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar